WHAT I'VE LEARNED AFTER A BREAK UP


Cinta memang tidak pernah habisnya untuk dibahas. Tetapi cinta tidak selalu bewarna segar, ceria, dan menggelora. Karena terkadang cinta warna-warna sendu juga bisa muncul. Terutama kalau sehabis diputus oleh pasangan. Sebenarnya, akhir kisah cinta tidak selalu menyedihkan. Tapi, supaya artikel ini lebih melankolis, saya akan khusus bicara soal “hikmah” dari kisah cinta yang berakhir duka. Lagi pula, biasanya no pain, no gain, ‘kan?

The “I’m Okay”, “I’m Alright”,”I’m Fine” Phase
Komentar seperti ini (atau yang mirip-mirip) sering sekali keluar. Ada keinginan dari hati yang paling dalam untuk tetap menjalani aktivitas seperti biasa, seperti tidak ada yang berubah, seperti tidak ada masalah. Masih kirim SMS walaupun sudah tidak pernah dapat balasan atau malah sudah di black list.

            Ada juga yang berfikir begini: “tenang saja. Keadaannya masih aman”, nanti juga baikan lagi. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah “ I’am not OK and I am F.I.N.E (Frustrated – Insecure – Neurotic – Emotional)”. Inilah tahap penyangkalan atau enggan menerima kenyataan. Biasanya, bila tahap denial ini makan waktu lama, bakal ada negative excess terhadap berat badan dan kesehatan, atau perilaku.

The “Why is it happening to me?” phase
Berikutnya adalah tahap pain or anger, tergantung dari karakter orangnya. Ketika mantan sudah mengirim pesan sudah tidak mungkin balik lagi. Namun jauh di alam bawah sadar, ia masih benar-benar belum menerima bahwa hatinya telah disakiti. Terkadang hanya ingin menyendiri dan mendengarkan lagu bernuansa breakup, yang seakan melengkapi rasa sedih. Beberapa justru memberontak dengan rasa marah. Entah itu terhadap pasangan (maaf, mantan maksudnya), keadaan yang bikin putus atau bakan terhadap diri sendiri.

            Pada tahap ini perilaku seseorang baik pria maupun wanita bisa berbeda-beda. Dari yang sebal melihat lawan jenis, mencari target lain, sampai menenggelamkan diri ke pekerjaan. Di kondisi inilah istilah F.I.N.E (Frustrated – Insecure – Neurotic – Emotional) bisa benar-benar terwujud.

- Frustrated atau frustasi terjadi Karena Lelah terus berlari dari masalah, sementara marah timbul lebih dikarenakan keadaan tidak kembali sesuai keinginannya.
- Insecure atau tidak percaya diri terlihat di saat berusaha menjalin hubungan serius lainnya.
- Neurotic adalah kondisi saraf yang terganggu. Bukan berarti menjadi gila, tapi tingkah laku yang mulai berubah aneh akibat pengaruh bawah alam sadar, seperti sering menyendiri dan tidak tidur.
- Dan yang terakhir Emotional atau perasaan yang sensitif dan berlebihan. Akibatnya? Cepat marah atau menangis.

Cara paling bagus untuk mempercepat proses ini sebenarnya adalah banyak curhat atau paling tidak: bergaul. Dengan mencurahkan perasaan, seseorang justru akan banyak mendapat curhat  balasan dari orang lain. Pengalaman mereka akan membuat ia sadar bahwa ternyata hidup memang seperti itu.

The “Well, that’s life” Phase
Tahap ini merupakan masa ketika seseorang wanita atau pria benar-benar berhenti berlari dan berbalik menghadapi kenyataan. Setelah masa susah tidur, cepat marah, dan sakit tifus berlalu, ia baru sadar bahwa hidup tetap berjalan terus dan dua tahap sebelumnya tidak membuat hidup menjadi lebih baik. Di tahap ini, seseorang sudah mulai berusaha menghadapi sakitnya rasa rindu setiap bangun pagi, berhenti berdebar-debar setiap menerima SMS , dan mulai terbiasa dengan rutinitas baru. Perasaan kangen, kecewa, marah yang tadi terasa berat mulai terasa biasa, sampai akhirnya tiba menikmati proses berikutnya: proses penyembuhan.

THE “ What a wonderful life” Phase
Disinilah masa sudah bisa menertawakan kelakuan-kelakuan sewaktu putus. Sudah mulai bergaul lagi, kembali aktif tanpa hawa pelampiasan, dan mencari pasangan lain. Intinya, kejadian dan kesalahan lalu menjadi pembelajaran. Prosesnya bisa jadi bersumber  dari renungan yang tak tanggung-tanggung.

            Siapa juga yang mau masuk lobang yang sama dua kali? Karenanya, secara psikologis seseorang akan berusaha membentengi diri dengan beberapa pemahaman dan aturan baru. Ada yang menganggap hal ini terjadi Karena karma, pertanda bahwa mungkin belum jodoh, tapi ada juga yang cuek saja jalan terus dan berkata “saya lagi apes!”

Moral of the Break Up
Pembelajaran yang paling seru sebenarnya adalah pada saat saya mulai melihat pola bagaimana saya memilih pasangan. Karena ini terkait dengan kehidupan seperti apa yang ingin saya jalani nanti. Sebenarnya, bisa saja saya mengacuhkan semua pembelajaran ini. Tapi kalau saya perhatikan, saya cendrung mengulangi kesalahan yang sama walau situasinya berbeda.

Akhirnya pelan-pelan saya mulai berbagi dengan banyak orang yang saya percayai. Pembelajaran itu terus ada sampai saat ini. Pemahaman dari berbagai kejadian masa lalu membuat saat ini justru semakin menarik untuk di jalani. Sambil kemudian kita berusaha memperbaiki diri.
Labels: Artikel

Terimakasih Telah Membaca WHAT I'VE LEARNED AFTER A BREAK UP. Semoga bermanfaat...!

0 Comment for "WHAT I'VE LEARNED AFTER A BREAK UP"

Back To Top